Unsur Intrinsik Prosa: Tema


Salah satu unsur intrinsik pembangun cerita dalam sebuah karya prosa adalah tema. Tema merupakan unsur yang begitu penting dalam pembentukan sebuah karya prosa, karena tema adalah dasar bagi seorang pengarang untuk mengembangkan suatu cerita. Sering dijumpai berbagai kekeliruan dalam memaknai sebuah tema. Tema sering disamakan dengan topik, padahal pengertian dari keduanya jelas berbeda. Topik dalam sebuah karya prosa adalah pokok pembicaraan, sedangkan tema adalah gagasan sentral, yakni sesuatu yang hendak diperjuangkan melalui karya tersebut.

Oleh karena itu, dengan makalah ini diharapkan semakin memperjelas pembaca akan pengertian dan seluk beluk sebuah tema.

Beberapa Pengertian

Menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 803 ) tema adalah gagasan, ide pokok, atau pokok persoalan yang menjadi dasar cerita. Menurut Kamus Istilah Pengetahuan Populer ( 1986 : 263 ) tema adalah persoalan atau buah pikiran yang diuraikan dalam suatu karangan, isi dari suatu ciptaan. Kamus Istilah Sastra ( 1990 : 78 ) mengartikan tema sebagai gagasan , ide, ataupun pikiran utama di dalam karya sastra yang terungkap atau tidak. Tema tidak sama dengan pokok masalah atau topik. Tema dapat dijabarkan dalam beberapa topik. Selain itu, seperti yang terdapat dalam buku yang berjudul Berkenalan Dengan Prosa Fiksi ( 1999 :161 ) tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita.

Stanton dan Jenny C ( Nurgiantoro, 2002 : 67 ) berpendapat bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Sedangkan menurut Keraf ( 1984 : 107 ) tema ialah suatu amanat utama yang disampaikan oelh penulis melalui karangan. Selain itu, Aminuddin ( 1987 : 91 ) menyatakan bahwa tema ialah ide yang mendasari suatut cerita berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memapaparkan karya fiksi yang diciptakanya. Seperti dikemukakan oleh Mido ( 1994 : 18 ) tema adalah persoalan yang berhasil menduduki tempat utama dalam cerita rekaan dan bukan dalam pikiran pengarangnya. Hal ini mengingat yang dihadapi pembaca bukanlah pengarangnya, tetapi adalah karya sastra karanganya. Jadi tema adalah persoalan atau pokok pembicaraan yang mendasari cerita.

Fungsi Tema

Fungsi sebuah tema adalah memberi masukan bagi elemen struktural lain, seperti plot, tokoh, dan latar; fungsi dalam prosa yang terpenting adalah menjadi elemen penyatu terakhir keseluruhan cerita. Artinya, pengarang menciptakan dan membentuk plot, membawa tokoh menjadi hidup, baik secara sadar atau tidak, tersurat maupun tersirat, pada dasarnya merupakan perilaku yang dituntun oleh tema yang dipilih dan telah mengarahkanya.
Di samping itu, tema juga berfungsi melayani visi. Yang dimaksud visi di sini adalah tanggapan total pengarang terhadap pengalaman hidup dan hubunganya dengan jagat raya. Pada sisi lain pembaca memperoleh kesempatan untuk melihat pengalaman hidup orang lain melalui kecamata pengarang Dengan kata lain, pengarang menciptakan dunia fiksional yang membawa kita seolah – olah kita sendiri yang sedang mengalami kejadian itu. Ini semua dapat diperoleh melalui tema, selama kita dapat menyatukan keseluruhan unsure prosa menjadi kesatuan yang utuh.

Jenis Tema

Jenis tema menurut pokok pembicaraanya, yaitu :

Tema Jasmaniah ( physical )
Merupakan tema yang berkaitan dengan keadaan jasmani manusia. Tema jenis ini mempunyai focus manusia sebagai molekul, zat, dan jasad.

Tema Organic ( moral )
Merupakan tema yang mencakup hal – hal yang berhubungan dengan moral manusia, yang wujudnya tentang hubungan antar manusia, antar pria dan wanita. Contohnya Keluarga Permana, karya Ramadhan K. H.

Tema Sosial
Merupakan tema yang mencakup masalah sosia. Hal – hal yang di luar masalah pribadi, dalam artian manusia sebagai makhluk sosial. Kehidupan bermasyarakat, yang merupan tempat interaksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan alam, mengandung banyak permasalahan, konflik, dan lain-lain. Seperti dalam karangan Mochtar Lubis, Royan Revolusi, Kemelut Hidup, Kubah, Ronggeng Dukuh Paruk, Canting, Para Priyayi.

Tema Egoik
Merupakan tema yang menyangkut reaksi – reaksi pribadi manusia sebagai individu yang senantiasa menuntut pengakuan atas hak individualitasnya. Dalam kedudukannya sebagai makhluk individu, manusia pun mempunyai permasalahan dan konflik, misalnya yang berwujud reaksi manusia terhadap masalah-masalah social yang dihadapinya. Seperti dalam Malam Kuala Lumpur, Jalan Tak Ada Ujung, atau karya Umar Kayam yang berjudul Bawuk.

Tema Ketuhanan ( divine )
Merupakan tema yang berkaitan dengan kondisi dan situasi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai contoh adalah karya – karya A. A. Navis seperti Robohnya Surau Kami, atangnya dan Perginya, dan Kemarau.

Jenis tema menurut ketradisianya, yaitu :
Tema Tradisional
Tema jenis ini sangat berkaitan dengan kejahatan dan kebenaran. Pada umumnya disukai semua kalangan karena kebanyakan manusia memang menyujai kebenaran dan membenci kejahatan. Contohnya adalah tema yang berisi tentang kejahatan melawan kebenaran, tindak kejahatan yang ditutupi akan terbongkar juga, tindak kejahatan ataupun kebenaran akan menuai hasil masing – masing, dan cinta sejati yang menuntut pengorbanan. Seperti dalam cerita Mahabharata dan Ramayana.

Tema Nontradisional
Tema jenis ini mempunyai ide utama yang bertentangan dengan arus dan tidak lazim. Dapat dikatakan mengecewakan karena jalan cerita tidak sesuai dengan harapan pembaca. pada umumnya. Orang mengharapkan yang baik, yang jujur, atau semua tokoh yang digolongkan sebagi protagonis, akhirnya mengalami kemenangan. Sebaliknya, tokoh yang jahat, atau yang digolongkan sebagai antagonis, walau pada mulanya mengalami kejayaan, akhirnya dapat dikalahkan.
Jika terjadi hal yang sebaliknya, yaitu tokoh yang baik dikalahkan, pembaca akan menggugat walaupun hanya dalam pikiran mereka.

Jenis tema menurut cakupanya, yaitu :
Tema Pokok ( tema mayor )
Makna pokok cerita drama yang menjadi gagasan umum karya sastra tidak hanya terdapat dalam bagian tertentu saja. Bisa dikatakan terdapat dalam keseluruhan bagian.

Tema Tambahan ( tema minor )
Yaitu tema tambahan yang hanya terdapat pada bagian – bagian tertentu saja. Tidak seperti tema mayor yang dapat mencakup keseluruhan cerita.

Memang terdapat berbagai macam jenis tema, namun dalam prakteknya sangat sulit dijumpai sebuah karya yang hanya bermuat satu tema saja. Misalnya tema Ketuhanan saja. Di dalamnya pasti terkandung tema lain, karena prosa biasanya memiliki tema yang jamak. Kejamakan tema tersebut biasanya diperinci dengan memisahkanya menjadi tema pokok dan tema tambahan. Tema pokok yang menjadi keseluruhan ide dalam cerita dan menggunakan tema tambahan guna menyelipkan ide – ide kecil lain yang juga dianggap bermanfaat bagi pembaca.

Kesimpulan

Tema adalah unsur paling penting dalam penyusunan sebuah cerita. Menjadi pengikat bagi keseluruhan unsur intrinsik dalam prosa, namun tema baru akan bermaknsa setelah ada keterkaitan dengan unsur – unsur lainya.. Tema merupakan proses awal dalam kegiatan penulisan cerpen, karena sebelum membuat karangan penulis harus menetapkan terlebih dahulu tema yang akan ditulisnya. Tema adalah gagasan umum yang dipergunakan oleh penulis untuk mengembangkan cerita. Selain itu, tema juga dibagi menjadi berbagai macam jenis, yaitu berdasarkan pokok pembicaraanya, berdasarkan ketradisianya, dan berdasar cakupanya.

About these ads

5 thoughts on “Unsur Intrinsik Prosa: Tema”

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s