Akreditasi, Instrumen Akreditasi dan Supervisi


Akreditasi dalam hal ini adalah sebuah proses penilaian mengenai mutu, kinerja dan kelayakan sebuah institusi pendidikan (sekolah), yang dilakukan oleh organisasi atau badan mandiri di luar institusi pendidikan yang sedang diakreditasi. Akreditasi memerlukan bukti-bukti yang sah, termasuk di dalamnya seperti laporan lisan dan tertulis yang telah disiapkan sebelumnya oleh institusi pendidikan yang akan diakreditasi.

Akreditasi merupakan kegiatan penilaian, kemudian hasil dari penilaian ini menjadi ukuran sampai sejauh mana institusi pendidikan (sekolah) mampu menerapkan instrumen-instrumen akreditasi di dalam kegiatan penyelenggaraan sekolah. Output dari proses akreditasi ini adalah semacam laporan mengenai mutu sekolah berdasakan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau organisasi yang menaungi sekolah tersebut. Hasil nyata dari proses akreditasi akan menjadi tolak ukur bagi masyarakat untuk menilai seberapa baik kualitas sebuah sekolah.

Seperti yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005, akreditasi mempunyai beberapa instrumen tersendiri untuk menilai kelayakan institusi sekolah, instrumen-instrumen ini mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Standar Nasional Pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum NKRI. Tujuan dari Standar Nasional Pendidikan ini adalah menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peraban bangsa yang bermartabat. Selain itu, Standar Nasional Pendidikan juga memiliki fungsi tersendiri, yaitu sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Kemudian, instrumen akreditasi seperti telah diuraikan di atas meliputi: (1) Standar Isi; (2) Standar Proses; (3) Standar Kompetensi Lulusan; (4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; (5) Standar Sarana dan Prasarana; (6) Standar Pengelolaan; (7) Standar Pembiayaan; dan terakhir (8) Standar Penilaian.

Standar isi (Permendiknas No. 22 Tahun 2006) merupakan materi minimal dan tingkat kompetensi minimal, untuk mencapai kompetensi lulusan minimal. Materi minimal dan tingkat kompentensi minimal yang diharuskan dicapai oleh sekolah antara lain: Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, kerangka dasar merupakan lima jenis kelompok mata pelajaran yang diwajibkan bagi sekolah untuk diberikan atau diajarkan kepada siswa, sedangkan struktur kurikulum merupakan kompetensi yang harus dikuasai siswa, juga merupakan pola dan susunan mata pelajaran, serta standar kompetensi dan komptensi dasar yang harus dikuasai oleh setiap siswa. Kemudian Beban Belajar, beban belajar adalah waktu yang dialokasikan untuk melakukan proses pembelajaran di dalam kelas yang pelaksanaanya dapat menggunakan berbagai jenis metode. Selanjutnya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh pmerintah dan harus dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP sendiri sebetulnya tidak sekaku seperti apa yang orang awam lihat, karena dalam praktek pengembangan kurikulum terdapat fleksibilitas yang menjadikannya sesuai dan pada akhirnya dapat menuju tujuan belajar yang diinginkan, diantaranya meliputi kondisi sekolah/satuan pendidikan, potensi/karakteristik daerah, keadaan sosial budaya masyarakat setempat dan kondisi peserta didik. Terakhir adalah Kalender Pendidikan/Akademik. Kalender pendidikan merupakan pengaturan waktu yang diprgunakan untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran.

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) (Permendiknas No. 23 Th. 2006) adalah sebuah pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan tertentu.

Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Permendiknas No. 16 Th 2007 tentang Kualifikasi akademik dan Kompetensi guru) mengandung pengertian bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sehingga implementasinya seorang pendidik harus menguasai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi pofesional. Melalui kompetensi-kompetensi ini diharapkan akan tercipta tenaga pendidik yang memang berkualitas serta mampu mengemban tugasnya dengan baik dan penuh tanggungjawab.

Standar Proses (Permendiknas No. 41 tahun 2007) adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dengan tujuan mencapai kompetensi lulusan yang diinginkan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Dalam standar proses ini mencakup kegiatan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran. Proses yang baik diyakini akan menuntun kepada tujuan pembelajaran yang berhasil dan menjadikan output-output yang berkompeten.

Standar Sarana Prasarana (Permendiknas No. 24 Th 2007) kurang lebih memiliki pengertian bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana dan prasarana yang memenuhi kriteria minimal. Diantaranya meliputi lahan, ruang belajar, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat berkreasi, sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran dan segala aspek lain yang mendukung kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.

Standar Pembiayaan Pendidikan. Standar ini belum mempunyai patokan yang mengkhususkan membahas mengenai hal ini, hanya terdapat PP No. 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan dan Makalah BSNP tentang Standar Biaya Pendidikan, biaya operasional. Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasional satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Menjaga supaya stabilitas keuangan sekolah tetap berada pada titik yang relefan. Sehingga segala kegiatan yang berlangsung di dalamnya dapat berjalan dengan semestinya; dan tujuan pokok institusi pendidikan yang juga tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai dengan optimal.

Standar Pengelolaan (Permendiknas No.19 Th. 2007) adalah standar pengelolaan pendidikan untuk sekolah yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Di dalamnya meliputi perencanaan program, pelaksanaan rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah, sistem informasi managemen dan penilaian khusus.

Standar Penilaian (Permendiknas No. 20 Thn. 2007) adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Prosedur-prosedur penilaian dapat kita cermati sebagai berikut: Menginformasikan silabus kepada siswa pada awal semester; Pengembangan indikator pencapaian KD dan pemilihan teknik penilaian yang sesuai; Pengembangan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan bentuk dan teknik penilaian yang dipilih; Pelaksanaan tes, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan; Pengolahan hasil penilaian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik; Pengembalian hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai komentar yang mendidik; Pemanfaatan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran; Pelaporan hasil penilaian mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan; Pelaporan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan.

Seorang guru harus mengusai setiap instrumen yang menjadi dasar dalam akeditasi, karena hanya dari hal-hal tersebut guru dapat membuat dan melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Dengan menguasai instrumen demi instrumen, segala kegiatan dalam kaitannya dengan aktivitas mengajar dapat berjalan dengan optimal. Dalam hal ini kepekaan guru sangat diperlukan, karena dari kedelapan instrumen akreditasi tersebut memang ada beberapa instrumen yang bukan merupakan spesifikasi guru yang tugas intinya adalah mengajar di kelas. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa seorang guru memang harus berusaha menyesuaikan diri terhadap hal itu guna mencapai tujuan pembelajaran. Dikarenakan pada hakikatnya keberhasilan proses pembelajaran adalah peran dari semua warga sekolah, jadi kemampuan menterjemahkan instrumen-instrumen akeditasi oleh masing-masing warga sekolah terutama guru sangatlah dibutuhkan.

Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh kepala sekolah, dengan tujuan membantu guru mengembangkan kemampuannya profesionalnya mengelola detai-detail proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi yang ideal haruslah mencakup kegiatan seperti pra-supervisi kemudian supervisi dan akhirnya pasca supervisi. Langkah-langkah kegiatan tersebut perlu dilakukan untuk meraih hasil supervisi yang optimal. Pengertian supervisi bukanlah semata-mata menghakimi kinerja guru dalam mengajar dan mengelola administrasi mengajar, namun lebih bersifat mengarahkan dan membimbing guru. Kepala sekolah yang melakukan supervisi terhadap guru diharapkan mampu menjadi partner bagi guru, bersikap objektif, tidak ada gap diantara mereka, sehingga proses supervisi yang memerlukan keterbukaan dari guru dapat berjalan dengan lancar dan segala informasi yang dibutuhkan kepala sekolah sebagai “penyupervisi” dapat diperoleh.
Selain tujuan formal di atas, supervisi dapat dipergunakan kepala sekolah sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada guru dan kepada siswa, karena proses supervisi yang sebaiknya diadakan di kelas akan memberikan banyak waktu kepada kepala sekolah untuk mengetahui jalannya kegiatan belajar mengajar secara langsung di tengah kesibukan kepala sekolah mengikuti aktivitas di luar sekolah. Pertemuan yang intens ini diharapkan memacu guru dan mungkin juga siswa untuk semakin meningkatkan kesadarannya untuk lebih berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.

About these ads

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s