Gudeg Timur Rumah Sakit PKU


Sore itu pukul 14.20 WIB. Dari kejauhan tampak gerobak berwarna hijau nampak bergerak di Jalan K. H. Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Di dorong oleh Tanto (54) seorang laki-laki bertubuh kurus dengan hanya memakai celana pendek krem dan baju model polo berwarna abu-abu. Ia melenggang dari arah barat, kemudian merapatkan grobak berisi dagangan gudegnyanya di trotoar jalan.

Dengan cekatan Pak Tanto yang asli kelahiran Ngadinatan, Yogyakarta, mulai menata dagangan yang telah ia dan istrinya persiapkan dari rumah. Ayam, telur, tempe dan tahu yang dibacem ia tata kembali di sebuah baskom yang cukup besar. Ati yang dimasak areh. Daun singkong rebus. Krecek dan semur ia masukan ke dalam baskom berwarna abu-abu.

Tangannya lincah memilah berbagai jenis lauk pauk yang dimasak oleh istrinya, Titik (49). Setelah selesai menata makanan. Mengatur tikar yang ia letakan tepat di depan sebuah rumah. Ia kemudian menyalakan sabatang rokok sambil menunggu pelanggan yang datang.

Ridwan (22), adalah salah satu pelanggan Pak Tanto. “Harganya murah, rasanya juga mantep mas”, tuturnya sambil menikmati gudeg buatan Bu Titik.

Menurutnya dengan harga Rp. 6.000.00 cita rasa yang ditawarkan oleh sepiring lengkap nasi gudeg dengan lauk telur bacem tidak kalah dari gudeg yang dijual di toko-toko dengan harga selangit.

Awal mula

Pak Tanto bersama Bu Titik telah berjualan makanan khas Yogyakarta ini selama 25 tahun. Dari ketika Bu Titik masih bekerja sebagai pemasak gudeg untuk toko orang lain di daerah Serangan, pernah berjualan di sekitar SMA Gadjah Mada, pernah juga berjualan di dekat gedung PDHI Yogyakarta. Sampai akhirnya 10 tahun terakhir membuka warung gudegnya di timur rumah sakit PKU, Yogyakarta.

Selama berjualan di banyak tempat, hanya ketika di timur RS PKU inilah ia merasakan gudeg buatannya laris diburu pelanggan. Mulai dari karyawan RS PKU sampai dengan mahasiswa adalah pelanggan setianya.

Sebelum memilih untuk menjual gudeg,  Bu Titik pernah mencoba untuk berjualan bermacam-macam usaha. Sampai pada ketika ia memilih untuk menjual gudeg sebagai mata pencahariannya karena dirasa lebih mudah dalam proses pembuatannya dan lebih mnguntungkan.

Ibu dari empat orang anak ini, yaitu Franhadi (32), Ronang (30), Arif (23), dan Ayu (22), menjadikan gudeg sebagai penopang hidup keluarganya.

Pembuatan gudeg

Di rumah kontrakan kecilnya di darah Ngadinatan (barat RS PKU Yogyakarta), ia bersama satu orang pekerja dan terkadang di bantu anaknya mulai mengolah bahan-bahan gudeg pada pukul 08.00 dan selesai sekitar pukul 12.00. Bahan-bahan pembuat gudeg dan lauk pauknya sebenarnya sudah mulai dimasak pada hari sebelumnya, sehingga pada hari itu tinggal menanak nasi, merebus daun singkong, dan menyelesaikan memasak sayur gudeg yang telah dimulai hari sebelumnya.

Bahan utama pembuat sayur gudeg adalah nangka muda yang dimasak dengan gula jawa dan bahan-bahan lain. Proses pemasakan bu Titik hanya menggunakan anglo karena pembuatannya membutuhkan waktu yang lama dan lebih murah dalam penggunaan bahan bakar.

Dengan satu buah kompor di dalam rumah dan dua buah anglo di luar rumah, ia mengolah bahan-bahan menjadi racikan nasi gudeg yang nikmat. “Saya bisa memasak gudeg ya cuma belaja dari orangtua, sambil mencoba-coba sendiri”, katanya sambil membuka tutup baskom berisi baceman telur. Terdapat dua jenis gudeg Jogja. Yang pertama adalah gudeg kering. Gudeg ini relatif lebih tahan lama. Kemudian yang kedua adalah gudeg basah seperti yang sering di buat oleh Bu Titik.

Perjuangan hidup

Sekitar pukul 14.00 perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Setelah memasukan semua barang dagangan ke grobak brwarna hijau Pak Tanto pun membawanya ke emperan trotoar di tepi jalan K. H. Ahmad Dahlan.

Pak Totok memilih untuk berjualan pada pukul 14.00 karena menurutnya sekitar waktu-waktu itulah banyak orang yang dihinggapi rasa lapar.

Memang belum saja Pak Totok mnyelesaikan menata tikar sudah datang beberapa pelanggan yang mndatangi.

“Dulu sebelum ibu kumat gulanya kalau siang juga kadang kesini”, kisah Pak Tanto menuturkan kondisi kesehatan Bu Titik yang sudah beberapa lama sakit.

Beberapa bulan lalu memang Bu Titik kerap keluar masuk rumah sakit karena pnyakit gulanya kambuh. Penyakit tersebut menyerang kakinya sehingga ia kesulitan untuk berjalan. Sehingga ia disarankan untuk banyak beristirahat dan hanya menemani Pak Tanto ketika malam dan itu pun tidak bisa terlalu lama.

Perjuangan hidup telah menjadikan mereka sosok yang kuat dan tabah menghadapi cobaan. Pak Totok hanya libur ketika badan terserang penyakit. Hal ini semata-mata karena ia takut para pelanggannya kecelik ketika menjumpai warungnya tutup.

“Dulu anak-anak ketika masih kecil sering saya bawa berjualan. Saya naikan ke grobak ketika berangkat”, ungkap Bu Titik sambil mengeluarkan air mata.

“Sebenarnya tidak tega tapi dirumah tidak ada yang menunggui”, lanjut Bu Titik.

Perjuangan untuk btahan hidup adalah sesuatu yang benar-bnar mreka pegang dalam hidupnya. Bagaimana ia harus jujur dalam menjalankan usaha dan bagaimana ia sedapat mungkin membantu orang lain yang sedang mendapat kesusahan.

Dalam benaknya, yang terpenting bukan semata-mata dirinya, tetapi adalah anak-anaknya. Bagaimana ia dan keluarga harus dapat tetap bertahan hidup berapapun hasil berjualan yang ia peroleh. Dapat menyekolahkan anak-anaknya dan berharap anak-anaknya menjadi orang yang berhasil adalah cita-cita yang telah terwujud meskipun tidak tersampai dengan sempurna.

Berapapun hasil yang ia peroleh, ia tetap mensyukurinya. Karena bekerja adalah bukan semata-mata bagaimana ia dapat menghasilkan uang dari nasi gudeg buatannya, namun juga bagaimana ia dapat membantu oranglain sedapat ia dapat membantu.

“Saya kadang kasihan mas melihat anak-anak yang tinggal jauh dari rumah. Mungkin mereka tidak punya cukup uang tapi mungkin lapr kepingin makan. Jadi saya enggan menaikan harga. Saya teringat anak saya”, pungkasnya sambil mengusap air mata.

About these ads

2 thoughts on “Gudeg Timur Rumah Sakit PKU”

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s