Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama


INSPEKSI 

karya : Fransiskus Woddy Satyadarma

Analisis Tema dan Amanat
Salah satu unsur intrinsik pembangun cerita dalam sebuah karya prosa adalah tema. Tema merupakan unsur yang begitu penting dalam pembentukan sebuah karya prosa, karena tema adalah dasar bagi seorang pengarang untuk mengembangkan suatu cerita. Sering dijumpai berbagai kekeliruan dalam memaknai sebuah tema. Tema sering disamakan dengan topik, padahal pengertian dari keduanya jelas berbeda. Topik dalam sebuah karya prosa adalah pokok pembicaraan, sedangkan tema adalah gagasan sentral, yakni sesuatu yang hendak diperjuangkan melalui karya tersebut.
Sebelum kita membahas mengenai tema dan amanat dalam naskah drama tersebut, akan saya jelaskan terlebih dahulu beberapa pengertian dari tema dan amanat. Menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 803 ) adalah gagasan, ide pokok, atau pokok persoalan yang menjadi dasar cerita. Menurut Kamus Istilah Pengetahuan Populer ( 1986 : 263 ) tema adalah persoalan atau buah pikiran yang diuraikan dalam suatu karangan, isi dari suatu ciptaan. Kamus Istilah Sastra ( 1990 : 78 ) mengartikan tema sebagai gagasan , ide, ataupun pikiran utama di dalam karya sastra yang terungkap atau tidak. Tema tidak sama dengan pokok masalah atau topik. Tema dapat dijabarkan dalam beberapa topik. Selain itu, seperti yang terdapat dalam buku yang berjudul Berkenalan Dengan Prosa Fiksi ( 1999 :161 ) tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Kemudian amanat menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 46 ) adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang lewat karyanya ( cerpen atau novel ) kepada pembaca atau pendengar.
Dalam naskah drama yang berjudul ” Inspeksi ” karya Fransiskus Woddy Satyadarma dibutuhkan pemikiran serius oleh pembaca atau penonton untuk mencoba mengenali temanya. Tema dalam naskah ini termuat secara implisit dalam dialog tokoh – tokohnya, tidak bisa serta merta diketahui hanya dengan membaca naskah atau menyimak pertunjukan drama secaa sekilas. Pembaca dan penonton dituntut untuk mencermati, berpikir secara kritis, dan berimajinasi tinggi sehingga apa yang dimaksudkan oleh pengarang dapat ditransfer ke diri pembaca dan penonton dalam bentuk pemikiran yang sama dengan apa yang menjadi pemikiran pengarang pada saat ia menulis naskah tersebut.
Secara garis besar naskah drama di atas bertemakan sosial. Kehidupan sosial masyarakat yang kebanyakan berkecenderungan untuk memandang sesuatu hanya dari tampak luarnya saja. Hal semacam ini sudah sangat membudaya dalam kehidupan masyarakat di institusi apapun, dari jaman apapun, khususnya masyarakat Indonesia. Segala sesuatu yang akan dilihat oleh orang lain pasti akan dipersiapkan terlebih dahulu supaya mendapat kesan positif dari orang lain yang melihatnya. Dalam naskah terlihat pada dialog yang diucapkan oleh Tumeles dan Hajir.

Tumeles : “Nanti dulu, pokoknya itu wadah. Ya, toh, zaman sekarang itu yang perlu itu wadah dan konsepsi itu ya, toh. Rumusan itu, ya, toh. Disiplin terhadap wadah dan rumus itu, ya, toh?”
Hajir : “Lha, iya, yang diminum itu apa “
Tumeles : “Yang diminum itu abstrak”
Hajir : “Lho, abstrak bagaimana “
Tumeles : “Yang penting kan logis dan rasional toh?” 

Pada dialog dua tokoh diatas jika hanya dipandang sekilas tidak akan terlihat makna yang ingin disampaikan. Memerlukan pemahaman lebih dari pembaca dan penonton agar dapat menelaah maksud dari kalimat – kalimat tersebut. Jika dilihat dari keseluruhan dialog dalam naskah, kesemuanya akan bermuara pada dialog Tumeles dan Hajir ini. Pengarang ingin menunjukan kepada pembaca dan penonton bahwa dalam setiap aspek – aspek kehidupan kita masih terdapat birokratisasi yang teramat kuat. Seolah – olah atasan dapat mempermainkan bawahan dengan semena – mena dan bawahan menerima saja hal itu sebagai suatu kewajaran, meskipun sebenarnya dalam hati tidak setuju. Ketidaksetujuan ini ditunjukan dalam keseharian masyarakat yang hanya akan terlihat baik bila akan atau sedang bertemu orang lain yang mereka anggap “lebih tinggi” daripada mereka. Amanat yang terdapat dalam naskah drama ini adalah mengingatkan kita bahwa semua hal harus dipersiapkan sedini mungkin, sehingga jika ada sesuatu yang mendadak dan mendesak tidak perlu terburu – buru untuk menyediakannya, karena jauh hari sebelum hal itu dibutuhkan kesemuanya telah siap. Berusaha melakukan suatu hal sedikit demi sedikit dalam artian persiapan. Jauh lebih efektif dan efisien daripada langsung banyak hal, niscaya hasil yang akan diperoleh akan sangat berbeda.

Analisis Tokoh dan Penokohan
Unsur intrinsik lain yang terdapat dalam cerpen adalah tokoh dan penokohan. Tokoh merupakan alat bagi pengarang untuk dapat menyampaikan tema kepada pembaca atau penonton. Dengan melalui tokoh lah suatu cerita dapat berjalan runtut, sehingga menghasilkan cerita yang menarik. Tokoh diibaratkan menjadi senjata utama bagi pengarang untuk menggerakan cerita, selain tema yang fungsinya adalah sebagi tulang atau penuntun cerita. Tanpa tokoh suatu cerita tidak akan menarik, bahkan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Karena melalui dialog – dialog antar tokoh dan perbuatan tokohlah tema cerita itu terkandung. Berikut ini adalah pengertian tokoh menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 811 ), tokoh adalah salah satu unsur cerita fiksi atau drama yang dapat menentukan unsur – unsur plot. Tokoh dalam fiksi dan drama terdiri atas tokoh utama ( protagonis ), tokoh antagonis, tokoh pembantu, dan tokoh pelengkap. dalam setiap tokoh biasanya digambarkan ciri – ciri menonjol yang membedakan satu tokoh dengan tokoh lainya. Kemudian, masih pada Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 605 ) dijelaskan mengenai pengertian penokohan, yaitu cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak para pelaku yang terdapat di dalam karyanya.
Pada naskah drama ini pengarang mempergunakan lima orang tokoh untuk membawakan keseluruhan cerita. Kelima tokoh tersebut adalah Ihnas, Yunus, Hajir, Tumeles, dan Karman. Kelima orang tersebut mempunyai watak masing – masing yang tidak sama antara satu dengan yang lain. Namun ketidaksamaan watak inilah yang pada akhirnya menjadikan konflik di antara mereka. Cara pengarang melukiskan watak setiap tokoh adalah dari reaksi masing – masing tokoh terhadap suatu kejadian yang sedang terjadi di sekitarnya dan dengan menggambarkan reaksi – reaksi yang timbul pada saat tokoh berbicara dengan tokoh lain, bisa dari dialog bisa juga dari bahasa tubuh.
Tokoh Ihnas merupakan seorang laki – laki yang tegas, disiplin, taat peraturan, namun sedikit tempramental. Ini bisa dilihat dari dialognya ketika sedang mengingatkan Yunus, “Kalau Mas Hajir melihat kau begitu ceroboh, tahu rasa kau” kemudian “Ya, garam keringatmu itu, goblok” lalu “Ini kan kamar tamu. Kalau kau naruh baju di sini kan… gila. Kalau si Mincuk kemari gimana?” dan “Taruh di kamar sendiri sana. Terus mandi. jangan begitu, dong kau”.
Selanjutnya, tokoh Yunus digambarkan juga sebagai seorang laki – laki yang mempunyai sifat keras kepala, jorok, tolol, tidak disiplin, namun sebenarnya ia juga taat kepada atasannya. Hal ini terlihat pada dialog – dialog Yunus seperti, “Perkara senior kan tidak ada sangkut pautnya dengan baju” lalu “Ooooo itu, toh! sebentar ( jongkok, jarinya mendulit tumpahan limun, mencicip, lalu tertawa ) limun ini” kemudian “Kau ini ngomong apa. Masak Mas Hajir suruh aku mencicipi keringatku sendiri”. Terdapat banyak dialog yang mengisyaratkan bahwa tokoh Yunus ini tolol, namun sebenarnya pendapat ini juga tidak begitu kuat karena bisa saja Yunus hanya berpura – pura tolol. Yunus juga berulang – ulang kali mengucapkan kata “Siap!” ini juga bisa menandakan bahwa Yunus sebenarnya adalah orang yang taat. Selain itu dialog yang diucapkan oleh Hajir, “Sudah berapa kali kau melakukan kesalahan – kesalahan sehingga dengan demikian kau diperingatkan dengan keras karena tindakanmu yang dapat dikategorikan sebagai tindakan indisipliner, dan mengurangi kewibawaan baik seluruh persekutuan, baik tingkat lokal, maupun regional…?” dialog ini menunjukan bahwa Yunus adalah orang yang tidak disiplin.
Tokoh Hajir diceritakan sebagai ketua asrama tapi bisa juga dikatakn sebagai atasan dari keempat tokoh yang lain. Hajir adalah seorang yang mampu menghargai pendapat orang lain, namun juga mempunyai karakter khas seorang ketua atau atasan yaitu gemar menyuruh bawahannya, terkadang ia juga tempramen. Dialog – dialog yang menunjukan hal itu adalah, “Nggak apa – apa. Katakan idemu. Belum tentu jelek, ya toh…” lalu sebagai seorang pelaksana peraturan Hajir terkadang bersikap semaunya, “Pimpinan regional akan datang. Anu… eee itu buku – buku dibersihkan semuanya… Ambil sulak. ( Ihnas exit dan Hajir teriak ) Karman, Karman!” lalu “Ambil taplak meja, buku – buku ilmiah, buku – buku suci, salib – salib, patung – patung, siap di sini….” kemudian “Itu, itu mejanya yang sana pindah sini. ( Tumelas melaksanakan perintah Hajir dengan susah payah )”. Watak tempramen Hajir ditunjukan pada dialog “( Membentak ) Apa, katakan cepat!”.
Kemudian tokoh Tumelas. Tumelas digambarkan sebagai seorang yang rajin, ringan tangan, dan patuh pada atasan. Tidak bisa dipastikan apakah Tumelas ini pria ataukah wanita karena memang tidak terdapat dialog atau perbuatan yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi hal itu. Dari nama “Tumelas” merupakan nama perempuan jawa, namun sekali lagi tidak bisa dipastikan apakah ia pria atau wanita. Pada dialog “Baik. Kau mandi dulu sana. Biar aku yang membersihkan lantainya. ( Keduanya exit, tetapi Tumelas segera masuk kembali membawa pel lantai, sambil membenahi kursi – kursi. Hajir masuk dengan tergopoh – gopoh )” mencerminkan bahwa Tumelas adalah seorang yang ringan tangan, ia tidak keberatan membantu pekerjaan orang lain yang sebenarnya bukan tanggungjawabnya. Ia juga taat, pada saat diperintahkan oleh Hajir ia menurut saja, “Itu kursi itu pindah sini. ( Tumelas menjinjing kursi yang satu dipindah ke yang lain )” dan “Itu, itu mejanya yang sana pindah sini. ( Tumelas melaksanakan perintah Hajir dengan susah payah)”.
Di samping itu tokoh Tumelas juga digambarkan sebagai seorang yang sedikit “tidak jelas”. Ketidakjelasannya dapat dilihat pada dialog ketika ia sedang berbicara kepada Hajir, “Begini. Maksud saya, supaya segalanya itu tampak hebat. Ya, toh, pokoknya sip, ya, toh. Lha itu…, begini, nanti kalau Pimpinan regional itu datang ya toh…” dialog yang lain “Nanti dulu, pokoknya itu wadah. Ya, toh, zaman sekarang itu yang perlu itu wadah dan konsepsi itu ya, toh. Rumusan itu, ya, toh. Disiplin terhadap wadah dan rumus itu, ya, toh?” dari kedua dialog itu saja sudah dapat disimpulkan bahwa Tumeles adalah seorang yang kurang mampu menjelaskan suatu hal dengan to the point. Langsung ke pokok pembicaraan. Harus berputar – putar terlebih dahulu.
Terakhir adalah tokoh Karman. Hanya sedikit dialog yang ia ucapkan, itupun hanya kata “Ya, mas” terkesan ia bukanlah tokoh penting dalam keseluruhan cerita ini.
Di dalam keseluruhan cerita sangat sulit mencari siapakah tokoh utama, tokoh antagonis ataupun protagonis karena dialog – dialog yang menjadi tolak ukur dalam menilai sangat berimbang. Tidak ada tokoh yang dominan dalam cerita ini. Tetepi jika dilihat dari kuantitas dan kualitas dialog Hajir lah yan menjadi tokoh utama, karena ia bisa dibilang paling dominan dari tokoh – tokoh yang lain meskipun kedominannya tidak terlalu terpaut jauh. Untuk menentukan tokoh protagonis dan antagonis juga sangat sulit karena masing – masing tokohnya mempunyai perwatakan yang tidak stabil. Kadang positif sebentar berubah menjadi negatif. Kemudian, tokoh Karman hanya berfungsi sebagai tokoh latar. Karena ia tidak mempunyai cukup andil dalam keseluruhan cerita.

Analisis Alur atau Plot
Pengertian alur menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 43 ) adalah jalinan peristiwa di dalam kaya sastra untuk mencapai efek tertentu. Jika dilihat dari keseluruhan cerita dalam naskah drama berjudul “Inspeksi” maka akan terlihat bahwa alur atau plot yang digunakan adalah alur maju. Hal ini bisa dibuktikan dengan meneliti kejadian demi kejadian yang semuanya disusun secara sistematis, menuju ke konflik, klimaks dan akhirnya penyelesaian. Konflik ditunjukan pada saat Hajir menerima telepon bahwa akan ada kunjungan dari Pimpinan Regional, di situ lah awal dari konflik yang terjadi. Meskipun sebelumnya terdapat konflik – konflik kecil antara tokoh satu dengan yang lain, namun konflik yang sebenarnya adalah ketika Hajir mendapat telepon dari pimpinannya. Bermula dari telepon itu mereka menjadi sangat kalut, tidak tentu arah, dan pada akhirnya kebingungan yang mereka dapat. Hal itu disebabkan karena memang mereka tidak menyangka bahwa akan ada kunjungan mendadak dari Pimpinan Regional. Pada saat Hajir sangat marah soal pencuri, itulah klimaks dari semua konflik yang tejadi. Ketika ternyata Pimpinan Regional tidak jadi datang itu merupakan penyelesaian dari keseluruhan cerita.

Analisis Latar atau Setting
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 455 ) latar berupa tempat kejadian dan waktu kejadian berguna untuk memperkuat tema, menentukan watak tokoh, dan membangun suasana cerita.
Dalam naskah ini latar tempat digambarkan sebagai ruang tamu sebuah asrama Katolik. Cukup luas dengan beberapa kursi dan meja. Sehingga memang pantas jika disebut ruang tamu dengan beberapa pasang zitje. Terdapat sebuah rak buku yang penuh dengan buku – buku. Latar waktu adalah sore hari sekitar pukul 16.27 WIB. Lalu Karman masuk membawa patung – patung, salib , taplak meja, buku – buku ilmiah sehingga tempat itu menjadi lebih berisi dan semakin kelihatan lebih hidup. Bisa diperkirakan tempat itu merupakan sebuah asrama Katolik karena pada naskah disebutkan akan datang pemimpin – pemimpin regional, persekutuan, wakil kesatu , wakil kedua. Karena pertama jelas terdapat salib dan yang kedua dalam agama Kristen tidak ada pemimpin – pemimpin regional ataupun lokal. karena gereja – gereja Kristen berdiri mandiri dibawah naungan PGGI ( Persekutuan Gereja – Gereja Indonesia ) yang bisa dipastikan tidak akan melakukan pemeriksaan semacam itu.
Latar sosial dalam naskah drama ini kemungkina besar terdapat dalam sebuah asrama calon – calon romo atau yang biasa disebut frater, dengan pengawasan ketat yang biasanya dinaungi oleh ordo tertentu atau yayasan Katolik tertentu.


Analisis Sudut Pandang ( Point of View )

Seperti yang terdapat dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 626 ) yang dimaksud dengan sudut pandang adalah teori cerita atau naratologi yang menunjukan kedudukan atau tempat berpijak juru cerita terhadap ceritanya.
Pengarang dalam naskah drama ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu dalam ia menceritakan naskah dramanya. Pengarang tidak muncul sebagai tokoh “aku” ataupun sebagai “peserta” yang terlibat dalam cerita tersebut. Ia hanya menjadi semacam dalang yang menggerakan cerita sesuai dengan imajinasinya. Pengarang di sini bertindak sebagai pencipta segalanya, yang serba tahu terhadap setiap detail ceritanya.

Kesimpulan
Cerita yang disampaikan cukup lucu. Sedikit menghibur. Cerita ini menjadi sedikit hidup dengan adanya tokoh Yunus yang seperti orang tolol. Pelukisan latar juga bagus, simple tapi cukup membantu dalam penegasan tema dan kesistematisan setiap adegan. Selain itu biasa – biasa saja, tidak ada hal lain yang spesial. Adegan kurang bervariasi dan terkesan kaku, monoton. Sedikitnya dialog yang dipergunakan juga berpengaruh besar kepada kebingungan pembaca dan penonton untuk memahi tema dan menentukan jalan cerita. Tidak terdapat efek kejut yang nyata sehingga pada akhir cerita pembaca atau penonton kurang mendapat kesan dari naskah drama yang dibaca ataupun yang dipentaskan, karena ending yang diberikan terlalu biasa, hanya menimbulkan kata “Oooooo..oo” pada akhir cerita.
Dari segi teknis pencitraan pengarang dalam menunjukan tema sangat sulit dipahami, sehingga menyulitkan penikmat awam untuk menikmati cerita tersebut. Akan lebih baik jika tidak terlalu meng-implisitkan tema supaya karya ini dapat dinikmat dengan mudah oleh semua kalangan. Dari dialog antar tokoh juga seperti terdapat logat daerah tertentu. terutama pada saat dialog Tumeles sedang berbicara mengenai suatu hal dengan Hajir, sangat tidak jelas apa yang dimaksudkan. Secara keseluruhan naskah drama yang berjudul “Inspeksi” ini kurang.

5 thoughts on “Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama”

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s