Ronde Buatan Mas Ade


Malam hari adalah saat-saat terbaik baginya, menjajakan dagangan buatan Supinah (58), Ibunya. Ketika musim hujan tiba, ketika hujan telah reda atau ketika malam hari turun hujan namun tidak terlalu deras, saat itulah Ade (26) berharap akan sesuatu yang tidak semua orang merasakannya. Ade yang saat itu memakai jaket kulit kumal warna coklat, celana panjang hitam berlubang dibagian kedua tumitnya dan memakai sandal jepit hijau tampak garang meskipun dengan ukuran badan yang kecil.

Namun malam itu Rabu (16/3) sedang tidak diguyur hujan. Telah beberapa hari kota Yogyakata khususnya Jalan Kaliurang Km 7,5 tidak basah karena turunnya air hujan. Hal itu sama sekali tidak menghalangi semangatnya untuk dengan setia menunggu setiap pelanggan yang hendak menyambangi gerobaknya, merasakan semangkuk wedhang ronde hangat.

Wedhang ronde atau yang biasa hanya disebut dengan ronde adalah sejenis minuman tradisional yang berbahan dasar jahe. Dicampur dengan sedikit kolang-kaling, kacang goreng, susu, roti tawar dan bulatan-bulatan kecil yang terbuat dari tepung beras.

Dari itulah Ade menggantungkan hidupnya. Ade Rahmanto yang sejak lulus SMA tidak melanjutkan pendidikannya biasa berjualan sejak pukul 17.00 sampai dengan sekitar pukul 23.00. “Kalau lagi rame jam 21.30 aku wes muleh mas”, katanya dengan logat Jawa yang begitu kental. Ia biasa mangkal di seputaran Pasar Kolombo bersama dengan pedagang-pedagang makanan lainya.

Ade yang biasa dipanggil dengan panggilan “tepos” ini telah berdagang ronde sejak empat tahun lalu. Ketika sang Ayah meninggal karena memang umurnya yang sudah tua. “Ya..seko kui mas aku dodolan ronde, nek ibuk marung neng omah” katanya sambil melayani pembeli lain yang memesan satu bungkus wedhang ronde untuk dibawa pulang. Di keluarganya ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kakaknya yang pertama merantau di Karawang dan yang kedua telah menetap di Muntilan. Sedangkan satu adiknya masih mencari pekerjaan. Di kala umurnya yang masih cukupmuda ia harus bekerja keras membantu ibunya hamper kehilangan penglihatanya karena penyakit katarak

Malam itu Ade cukup beruntung nampaknya. Banyak pembeli yang bergantian datang meskipun hanya memesan satu, paling banyak dua mangkuk ronde. Ia memilih berjualan ronde karena menurutnya peminat minuman ini masih banyak, sedangkan di sisi lain penjual ronde tidak begitu banyak. Ia berkata kalau penjual ronde terdekat dari tempat itu saja harus masih turun ke daerah selatan perempatan Kentungan. Jadi para pelanggan yang berasal dari daerah Pasar Kolombo masih memilih ronde buatan ibunya ini untuk dinikmati.

Memang konsumen dari tahun ketahun mengalami penurunan. Empat tahun yang lalu saat ia pertama kali berjualan masih ia rasakan bagaimana keuntungan yang cukup besar dari daganganya. Tapi sekarang dengan satu porsi ronde yang ia jual dengan harga Rp. 5.000,00 pun hanya sedikit keuntungan yang ia dapat. Namun dari keuntungan yang ia dapat, berapapun yang diberikan Tuhan ia tetap bersyukur. Itu yang paling penting menurutnya. Karena berapapun besarnya yang ia dapat, itu tidak akan membawa berkah sama sekali ketika ia tidak pandai untuk mensyukuri karunia Tuhan.

Selepas malam ketika selesai menjajakan daganganya, ia pulang ke daerah Kayen. Masih di sekitar Jalan Kaliurang Km 7,5 sebelum Gereja Katolik Banteng. Pagi harinya ternyata ia masih menjadi loper koran di perempatan Kentungan, antara Jalan Kaliurang dengan ringroad utara. Baginya hidup adalah melakukan sesuatu yang menghasilkan. Bukan dari seberapa besar apa yang ia hasilkan, tetapi dari setiap usaha yang ia berikan.

Sebuah cerita yang mengharukan, namun ketika kami mendengar cerita ini langsung dari Ade, sama sekali tidak nampak gerut di wajahnya yang menandakan keletihan, apalagi raut muka malas, sama sekali tidak nampak. Kami hanya melihat sosok kumal, kulit coklat yang berkilau seperti kena minyak, namun juga sosok ceria dari Ade yang bercerita tentang sekelumit hidupnya, yang dapat dikatakan biasa menurut oranglain, tapi sungguh perjuangan yang melelahkan sekaligus sangat membanggakan bagi dirinya sendiri.

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s