Sartono Anwar Pelatih Anyar PSS


“Saya tidak bisa lepas dari sepak bola. Saya siap kecewa” – Sartono Anwar

Setelah larut dalam hingar bingar juara Divisi Utama LPIS 2013, PSS Sleman tidak terhanyut, tim ini tidak tinggal diam. Kompetisi sudah di depan mata dan saatnya kembali bertarung. Tidak peduli berkompetisi di Liga Super atau Divisi Utama sekalipun, pencarian pelatih dengan standar tinggi digelar. Dua nama mencuat. Tidak tanggung-tanggung dua nama beken muncul di stadion Maguwoharjo, kandang PSS, yakni Hans Timo Scheunemann dan Sartono Anwar. Nama terakhir, Sartono Anwar, akhirnya resmi dipilih menjadi pelatih kepala menggantikan Lafran Pribadi yang musim lalu mengantar PSS menjadi kampiun.

Nama Sartono Anwar tentu tidak asing bagi publik sepakbola Indonesia. Bermain sepakbola sejak usia 13 tahun. Ia memutuskan menggantung sepatunya sebagai pemain pada usia 27 tahun karena merasa bakatnya telah mentok sampai disitu. Sartono muda mengambil tantangan lain, tidak jauh dari dunia sepakbola yang begitu ia cintai, yakni pelatih sepakbola.

Menapaki usia yang tidak lagi muda bahkan cenderung sepuh bagi kebanyakan orang, Sartono Anwar dengan segudang pengalamannya sebagai pelatih akhirnya merapat ke PSS. Baginya menukangi tim dari kasta divisi utama bukan barang baru. Torehan gemilang terakhirnya di divisi utama tercatat saat mengantar Persibo Bojonegoro menjuarai divisi utama musim 2009/2010. Sayang ketika bermain di kasta tertinggi, Persibo yang saat itu masih dilatih oleh Sartono Anwar harus keluar dari kompetisi karena konflik internal PSSI.

Sartono Anwar saat ini berumur 66 tahun. Tidak muda lagi memang, namun kecintaan terhadap dunia sepakbola tidak bisa dipungkiri menjadi spirit utama baginya untuk terus berkarier sebagai pelatih. Darah pesepakbola nampaknya juga turun ke anaknya, Nova Arianto, mantan pemain tim nasional yang juga pernah membela PSS mulai musim 2000. Mungkin banyak yang belum tau jika istri Nova Arianto, Briggita Retno, adalah warga Sleman dan juga pendukung PSS sejak kecil. Bahkan dari kesaksian beberapa kakak kelas di Universitas Sanata Dharma, kawan saya ini beberapa kali pernah melihat Nova Arianto bermain sepakbola di lapangan Realino ketika berkunjung ke Jogja.

Tentu secara emosional kedekatan Sartono Anwar yang lahir di Semarang dengan Sleman terjalin cukup erat. PSS menjadi tim yang dua tahun dibela anaknya, anak mantunya berasal dari Sleman dan tentu besan beliau adalah penduduk Sleman asli.

Dedikasi pada sepakbola

Seneng larang regane. Kalimat dalam bahasa Jawa yang kurang lebih memiliki arti bahwa seseorang yang sudah suka bahkan cinta terhadap sesuatu maka ia akan menjalani aktivitas tersebut dengan senang hati, penuh dedikasi dan pantang berhenti sebelum memang saatnya harus berhenti. Kecintaannya terhadap sepakbola sudah ia buktikan melalui 53 tahun bergelut dengan bola yang menggelinding kesana-kemari. Pekerjaan mapan ia tolak demi memenuhi ambisinya akan sepakbola. Terbukti, passionnya pada olahraga terpopuler di dunia ini dapat menghidupi dirinya beserta keluarga.

Sartono Anwar muda pernah memilih resign dari pekerjaan utamanya saat itu sebagai pegawai di PT Pertamina karena berniat konsentrasi menjadi pelatih. Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus bukan perkara mudah baginya. Dedikasi tinggi sebagai pelatih dibuktikan dengan pengalamannya melatih sedikitnya 17 tim termasuk saat menangani tim nasional B dengan Benny Dollo sebagai asisten pelatihnya.

Bersama Benny Dollo pelatih Persija Jakarta dan Daniel Roekito yang baru saja memperpanjang kontrak melatih di Persepam Madura, Sartono Anwar, menjadi pelatih tertua di Indonesia Super League musim lalu.

Jika mengacu pada organisasi kesehatan dunia, WHO, kategori usia Sartono Anwar telah tergolong usia lanjut karena batasannya pada umur 65 tahun sedangkan ia telah berumur 66 tahun. Begitu pula J. W. Santrok, profesor dalam bidang psikologi, ia mengidentifikasi bahwa manusia Indonesia dikategorikan usia lanjut ketika mencapai usia 60 tahun.  Penggolongan semacam ini tidak berlaku bagi Sartono Anwar, ketika badan masih sehat ditambah semangatnya yang selalu berapi-api  selama itu pula ia akan terus berkarier di sepakbola.

Keras, ngotot dan total

Karakter permainan keras, ngotot dan total bisa jadi akan muncul di tim PSS musim depan. Karakter ini lah yang selalu muncul di setiap tim yang Sartono Anwar tangani. Mempercayakan kursi pelatih kepada dirinya adalah pilihan tepat. Skuad PSS membutuhkan pelatih dengan jam terbang tinggi, disegani oleh lawan, mampu memanage tim dengan baik dan terpenting paham harus dibawa kemana tim ini. Target promosi seandainya musim depan PSS bermain di divisi utama adalah capaian yang harus dijawab dengan pembuktian. Melalui kapasitasnya menangani banyak tim, termasuk saat menahkodai Persisam Samarinda yang musim lalu finish di peringkat tujuh Indonesia Super League merupakan modal yang lebih dari cukup untuk membuktikan target ini.

Bukan gurauan lagi jika Sartono Anwar sangat disegani oleh pelatih di Indonesia. Boleh saja kita katakan dirinya pelatih paling senior di negeri ini. Peramu strategi anyar PSS satu ini patut dijadikan teladan baik bagi pemain maupun pelatih. Pembawaannya tenang dan wibawanya begitu kentara. Sosoknya cukup tinggi, walaupun terbilang sepuh dirinya masih sangat energic dan tak nampak sedikitpun gurat lelah di wajahnya. Selain itu gaya melatihnya cukup sportif, sangat telaten ketika menyeleksi pemain, tidak emosional dan mampu mengayomi anak didiknya.

Musim lalu pernah suatu kali Persisam kalah dari Arema Malang, ia justru memuji permainan Arema yang memang pantas menang. Saat menangani Persibo ia juga pernah dipanggil PSSI untuk menjadi saksi atas laporannya mengenai dugaan suap wasit yang menawari managemen Persibo mengirim sejumlah uang kepada wasit jika ingin memenangkan laga melawan Persema Malang tahun 2010. Alhasil justru dirinya yang kemudian didenda PSSI sebanyak Rp 50 juta dan hukuman percobaan selama 1 tahun karena tidak dapat membuktikan tuduhan tersebut serta dianggap berkomentar terlalu pedas.

Membesut PSS, Sartono Anwar diharap mampu menghandle para pemain yang sebagian besar masih berusia muda. Bukan perkara baru baginya karena pemain bintang pun acap kali ia latih dan sejauh ini dirinya jarang diberitakan berselisih paham dengan anak asuhnya. Pengalamannya melatih tim sekelas Indonesia Super League, bahkan pernah mengantar PSIS Semarang menjadi juara Divisi Utama mengalahkan Persebaya Surabaya pada musim 1987 menjadi garansi bagi dirinya dalam meracik tim juara. Kapasitasnya meramu taktik dan strategi sekaligus meningkatkan teknik pemain akan kita lihat musim depan.

Memupuk keyakinan

Di bawah asuhan Sartono Anwar tersimpan optimisme saya terhadap kiprah PSS musim depan. Tidak bermaksud mendahului kehendak Tuhan namun saya pribadi yakin PSS akan mampu berbicara banyak. Di pundaknya kini tersemat beban berat. Melanjutkan kiprah apik PSS musim lalu di tangan Lafran Pribadi. Kabar terbaru, PSSI belum dapat memastikan PSS akan berlaga di kasta mana. Namun bagi para supporter kasta manapun tidak menjadi masalah. Asal hasil maksimal harus diperoleh, tentu dengan kerja keras mulai saat ini.

Kerja keras dalam menekuni sepakbola sudah ditunjukan Sartono Anwar dengan mendirikan SSB Tugu Muda. Sebuah sekolah sepakbola yang terkenal di negeri ini. Tugu Muda pernah melahirkan pemain timnas seperti M Ridwan, Nova Arianto dan Eko Purjianto. Tidak terhitung pesepakbola nasional yang lahir dari SSB ini. Ada kebanggaan tersendiri di benaknya ketika SSB sederhana ini mampu menghasilkan pemain yang berjuang untuk negara. Setidaknya ia berharap pemain jebolan SSB Tugu Muda dapat hidup dari sepakbola.

Uniknya, Hans Timo Scheunemann pesaing Sartono Anwar di kandidat pelatih PSS musim depan adalah pelatih SSB Tugu Muda saat berangkat ke Wembley, London, mewakili Indonesia di ajang Danone Nations Cup tahun ini.

Kerja keras yang kembali harus dibuktikan di PSS Sleman, tim kebanggaan warga Sleman dan Yogyakarta pada umumnya. Setelah puluhan tahun melanglang buana pembuktian ini akan dilakukannya di PSS. Semoga umur memang bukan penghalang baginya untuk tetap haus akan gelar dan membawa PSS ke tempat tertinggi.

Akhirnya sampai pada kesan pertama ketika saya melihat kawan supporter mengenakan topi pet. Penampilan kawan saya ini mengingatkan pada sosok pelatih yang jujur tidak begitu saya amati karena tidak melatih tim-tim papan atas seperti Daniel Roekito, Benny Dollo, Jacksen F Tiago atau Rahmad Darmawan. Gaya casual dengan menggunakan topi pet, topi sutradara atau juga dikenal sebagai topi kelas pekerja seperti di Inggris tahun 1571 sekarang telah lazim dipakai kawan-kawan supporter. Musim depan supporter tidak akan sendirian memakai topi pet ini karena Sartono Anwar, pelatih baru PSS juga berpenampilan sangat khas dengan topi pet di kepalanya.

Selamat datang coach Sartono Anwar, selamat bertarung. Kami percayakan PSS padamu.

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s