PSS Beringas Tahun 2000, Kardono Bangga


“Hari ini milik PSS Sleman. Saya menepi sebentar tak apa” – Suratman, pedagang di Pasar Demangan

Agaknya benar jika Psikolog Olahraga, Dr. Jerry Lynch mengisyaratkan keberanian, integritas, keuletan, kesabaran, ketekunan dan kemampuan mengatasi tekanan mental serta emosional untuk meraih prestasi maksimal dalam olahraga. Prestasi yang dimaksud tentu raihan gelar juara.

Juara merupakan titik capai maksimal dan oleh karenanya seseorang atau sekelompok orang berhak menyandang predikat sang juara. Tidak peduli juara dalam level apapun. Tidak pula melihat kejuaraan apapun. Bahkan ketika pemuda sebuah kampung memenangkan lomba badminton memeriahkan hari ulang tahun Kemerdekaan Indonesia misalnya, dirinya juga menyandang gelar sang juara. Sang juara wajar meluapkan sukacita, kebanggaan dan kepuasan atas kerja keras yang telah diraih. Sekali lagi, tidak memandang level dan kejuaraan apapun. Juara badminton antar kampung sekalipun sangat berhak jika ingin meluapkan emosi kegembiraan layaknya juara Piala Thomas ataupun Piala Uber.

Dalam lingkup sepakbola, status kampiun biasanya dituntaskan dengan selebrasi khusus setelah perayaan di dalam lapangan. Pemain, official dan managemen diarak sepanjang jalan utama kota dimana tim tersebut bernaung. Di Indonesia, Persipura Jayapura yang musim ini menjadi juara Indonesia Super League turut melakukan ritual arak-arakan. Tidak kurang 2500 Persipura Mania berkonvoi turun ke jalan di Jayapura. Sriwijaya FC Palembang yang merengkuh gelar serupa tahun 2012 membuat jalanan Palembang berwarna kuning karena 3000 Laskar Wong Kito memadati jalan-jalan utama di Palembang. Kota Malang tahun 2010 tak luput dari perayaan serupa ketika Arema Indonesia berhasil membawa gelar Indonesia Super League bagi Aremania. Bahkan konvoi Aremania dan ribuan warga Malang masih berlangsung sampai hari ke tujuh sejak pentahbisan gelar juara.

PSS bergegas melakukan persiapan guna menghadapi musim depan yang kemungkinan akan lebih sengit. Tempo hari Sartono Anwar mantan pelatih Persisam Samarinda diberi kepercayaan menjadi pelatih kepala. Dua belas pemain musim lalu juga sudah dikontrak kembali. Namun masih segar dalam ingatan ketika gelar juara divisi utama LPIS diraih dan ribuan supporter PSS baik Slemania maupun Brigata Curva Sud tumpah ruah turun ke jalan berkonvoi mengarak punggawa PSS keliling Sleman.

Jalan protokol di perbatasan Yogyakarta kota dengan Sleman macet parah. Antrian  kendaraan bermotor seperti tiada habisnya. Bendera hijau hitam berkibar sepanjang jalan. Lajur jalan seakan hanya berjalan satu arah. Tetap saja seperti sudah dapat diperkirakan, komentar negatif dan positif beterbangan seiring raungan knalpot dan teriakan chant supporter.

Supporter PSS memang tidak sedang merayakan gelar juara Indonesia Super League. Namun tidak ada yang berhak membedakan sukacita di Sleman dengan kota juara lain berdasarkan gelar yang diperoleh. Biarkan publik Sleman bersorak-sorai atas torehan prestasi musim ini. Prestasi yang patut dibanggakan mengingat kerja keras dari seluruh elemen di Sleman. Publik Sleman tidak hanya merayakan gelar juara, namun keberhasilan membentuk sinergi yang baik antara supporter, managemen, jajaran pelatih dan pemain dalam mengarungi musim kompetisi yang berat. Kompetisi dimana pengelola liga acuh terhadap tim. Kompetisi yang carut marut saat banyak tim tidak dapat melanjutkan pertandingan karena kendala keuangan. Sukacita ini milik seluruh warga Sleman dan pendukung PSS dimanapun berada.

Klub ndeso yang beringas

Torehan sejarah bagi publik Sleman. Cerita besar yang sulit dilupakan, mengingat inilah capaian gelar pertama yang berwujud piala juara setelah terakhir tahun musim 1999/2000 PSS berhasil promosi ke kasta tertinggi Divisi Utama Liga Indonesia. Meskipun saat itu, Selasa 30 Mei 2000, PSS kalah di final Divisi I di Stadion Benteng, Tangerang, oleh Persita Tangerang. Gol semata wayang libero sekaligus kapten Persita saat itu, Edy Jhon Edy di menit 71 membuyarkan mimpi lolos ke Divisi Utama dengan predikat juara. Alhasil PSS hanya menggondol trophy juara kedua dan medali perak. Tetaplah prestasi membanggakan karena saat itu PSS dijuluki tim ndeso dari daerah.

Jika musim lalu La grande storia telah terukir, beberapa tahun lalu tepatnya musim 1999/2000 sejarah besar lain juga dirayakan dengan gegap gempita oleh masyarakat Sleman, khususnya Paguyupan Pecinta Laskar Sembada (PPLS) sebelum akhirnya berubah nama menjadi Slemania melalui sayembara pada 22 Desember 2000.

Setelah pertandingan final penentuan di Tangerang, skuad PSS langsung kembali ke Sleman. Rabu 31 Mei 2000 setelah perjalanan selama 13 jam akhirnya rombongan pemain, official dan managemen PSS sampai di Balai Desa Balecatur, Sleman. Beristirahat disana sebentar untuk segera menuju kompleks Pemda Sleman bertemu Arifin Ilyas, Bupati Sleman saat itu.

Dari Balai Desa Balecatur rombongan diarak oleh supporter menaiki 2 mobil pick-up dengan rute jalan Wates menuju ringroad barat kemudian jalan Magelang masuk jalan Merapi dan berakhir di kompleks Pemda Sleman. Arak-arakan berlangsung selama 1 jam dengan jumlah kendaraan sebanyak 25 mobil termasuk 2 truk dan sekitar 50 sepeda motor.

Uniknya ketika sampai di Kompleks Pemda rombongan kembali harus menunggu di Pendopo Parasamya karena Arifin Ilyas kala itu sedang rapat pleno penyampaian pendapat akhir fraksi-fraksi dan penetapan laporan pertanggungjawaban Bupati Sleman periode 1995-2000. Lolosnya PSS ke divisi utama menjadi kado perpisahan Arifin Ilyas sebelum berakhir masa jabatannya. Setelah Arifin Ilyas yang juga Ketua Umum PSS selesai, rombongan PSS kemudian berjalan kaki menuju DPRD Sleman.

Di gedung DPRD, manager PSS Sukidi Cokrosuwignyo mempersembahkan piala dan medali perak kepada masyarakat Sleman. Diterima secara simbolis oleh Bupati. Suasana yang semula anteng dan cenderung formal berubah menjadi gegap gempita karena teriakan-teriakan supporter membahana di ruangan tersebut. Sesuai janji sebelumnya, PSS tidak akan kembali ke Sleman dengan tangan hampa. Janji ini terpenuhi dengan predikat runner-up serta menuai banyak pujian dari pengamat karena PSS yang saat itu hanya diperkuat pemain asli Sleman mampu bermain kolektif dan menyuguhkan permainan atraktif.

Luar biasanya adalah saat menjadi runner-up dan lolos ke divisi utama, PSS kala itu hanya membutuhkan dana sebesar Rp 131.229.700,- kurs Rupiah saat itu sekitar Rp 8.500,- per US$. Bandingkan dengan saat ini yang telah mencapai Rp 12.000,- per US$. Dana sebanyak itu dapat tercukupi karena kerjasama yang terjalin baik antara PSS, para pengusaha dan pecinta PSS. Pada awal kompetisi PSS sedikit sempoyongan karena modal awal mengarungi kompetisi hanya Rp 35.000.000,- hasil bantuan dari Arifin Ilyas, Ketua Umum PSS saat itu. Skuad Elang Jawa tidak menyerah hanya karena minimnya dana. Mereka tetap berjuang dengan totalitas. Sampai akhirnya meraih prestasi membanggakan.

Kardono bangga

Kardono, mantan Ketua Umum PSSI menyempatkan datang ke Stadion Benteng ketika babak final. Dirinya mendengar kabar melejitnya PSS ke babak final dari media. Kardono adalah mantan Ketua Umum PSSI periode tahun 1983 sampai 1991. Sepak terjangnya di lingkup sepakbola Asia Tenggara yakni menjadi ketua pertama ASEAN Football Federation (AFF) yang berdiri tahun 1984. Di tangannya timnas sepakbola berhasil meraih medali emas SEA Games 1987 dan 1991. Pencapaian yang belum dapat dilampaui bahkan sampai detik ini.

Selesai pertandingan, Kardono, yang asli warga Godean, Sleman, memuji permain apik PSS. Sebagai warga Sleman ia sangat bangga. Dirinya tak menyangka aliran bola dan pergerakan pemain PSS lebih mantap daripada yang ia bayangkan. Sebelum pertandingan dimulai purnawirawan Marsekal Madya ini menyempatkan memberi wejangan. Dirinya berpesan kepada para pemain untuk tidak berkelahi di lapangan, jangan menentang wasit, jangan terlibat suap, terakhir jangan sampai bersentuhan dengan narkoba. Pesan ini bisa jadi menjadi pesan terakhir Kardono bagi para pemain PSS sebelum dirinya meninggal dunia tahun 2003 tepat ketika PSS meraih prestasi lain finish di urutan 4 Divisi Utama Liga Bank Mandiri.

Tiga belas tahun berlalu sejak tahun 2000. PSS menapaki babak baru. Bukan lagi tentang Stadion Tridadi yang saat itu diharapkan mempunyai fasilitas lebih memadai untuk mengarungi Divisi Utama. Saat ini PSS memiliki Stadion Maguwoharjo yang begitu representatif. Selain itu PSS memiliki sumber daya dalam diri supporter yang luar biasa. Animo sepakbola di Sleman sedang kembali dibangun. Modal yang cukup untuk melangkah lebih jauh. Lebih jauh menembus kasta tertinggi sepakbola Indonesia, kemudian mewujudkan mimpi segenap pendukung melihat tim kebanggaan berprestasi mencapai puncak tertinggi.

One thought on “PSS Beringas Tahun 2000, Kardono Bangga”

  1. Dari beberapa artikel yang saya baca, saya menyimpulkan kalau anda lahir di sekitar tahun 1990. Namun, tulisan-tulisan anda benar-benar cukup dalam dan detail mengenai PSS Sleman. Bahkan mengenai beberapa sejarah masa lalu PSS Sleman yang mungkin masih asing bagi awam seperti saya yang kebetulan juga lahir di sekitar tahun 1990…

    Salut untuk kesediaan anda membagi informasi dan juga romantisme masa lalu mengenai PSS Sleman…:)
    Anda pastilah seorang Sleman Fans yang sangat dalam menyimpan rasa bangga itu…

    Salam.

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s