Serupa mentari yang muncul setelah malam. Layaknya pelangi yang datang selepas hujan. Begitu pula kepergianmu yang segera kembali.
Suatu ketika seorang anak berjalan seorang diri mengitari taman bermain. Di sekitarnya terdapat banyak pilihan permainan yang siap dimainkannya kapanpun. Di sampingnya terongok ayunan kosong yang melambai menantikan tubuh mungil sang anak.
Jauh di meja taman duduk seorang pria yang sedang memperhatikan dirinya. Tubuhnya lesu namun coba membalas senyum kecil yang muncul dari pipi sang anak.
Sayang, akulah pria itu.
Aku yang termenung menunggu senyummu. Aku menunggu senja berganti senja. Aku melihat detail terik berganti terik berulang setiap hari. Taukah sayang, aku berharap mentari bergegas pergi untuk segera berganti bulan? Sebuah harapan konyol tentang pagi dan malam yang tak banyak orang mau tau.
Kini genap ratusan hari. Aku hampir lelah berpura-pura tersenyum untuk orang lain yang memberi senyum padaku. Aku ingin senyum darimu sayang. Sebuah senyum yang sekian lama aku nanti.
Jika hari itu segera datang, biarkan aku bercerita, bahwa aku siap tersenyum kembali. Aku siap melukis kembali. Melukis hari demi hari yang aku janjikan akan berwarna pelangi untukmu sayangku. Nanti..